Bulu Poloe

oleh -1.155 views

Objek wisata Bulu Poloe rupa­nya masih menjadi salah satu al­ternatif tujuan wisata masyarakat Luwu Timur selain beberapa ob­jek wisata yang banyak terdapat di daerah ini. Selain karena keindahan alam laut teluk Bone yang mengel­ilingi Bulu Poloe, pula masyarakat dapat memanfaatkan hari libur den­gan diving hingga memancing.

Berkunjung ke objek wisata ini, hanya bisa dilalui dengan jalur laut dengan menyewa perahu-perahu milik warga yang berada di Desa Wewangriu, Baruga serta Balan­tang. Perjalanan memakan waktu sekitar satu jam. Biasanya, hari Sab­tu dan Minggu, objek wisata Bulu Poloe yang dalam bahasa Indonesia berarti Gunung Terbelah ini selalu ramai diserbu para wisatawan yang bukan hanya wisatawan dari dalam daerah, melainkan juga ada yang berasal dari luar daerah.

Mitos Nama “Bulu Poloe”

Ada beberapa mitos di kalangan masyarakat di Luwu Timur men­genai sejarah pulau terbelah ini. Konon kabarnya nama “Bulu Po­loe” berasal dari sejarah Saweriga­ding. Sawerigading adalah seorang pangeran atau putra Raja Luwu bernama Batara Lattu. Suatu keti­ ka kapal Sawerigading terdampar di Teluk Bone dan patah menjadi dua bagian. Karena kecelakaan itu, tiang kapal rusak dan menjadi se­buah pulau bernama Bulu Poloe.

Ada juga mitos lain yang ber­kaitan dengan sejarah Bulupoloe yang mengatakan bahwa pulau itu berasal dari patahan gunung yang tertimpa pohon Welenreng. Sisa patahan pohon Welenreng akhirn­ya digunakan untuk membangun kapal-kapal yang digunakan oleh Sawerigading.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *